Tips berwisata naik kapal di labuan Bajo


Sebelum melakukan perjalanan antar pulau di Bajo ada baiknya memastikan kecepatan kapal dan kebutuhan trip terlebih dulu. Jika butuh mengunjungi banyak tempat dalam sehari, kapal cepat adalah pilihan terbaik.

Sementara jika memilih Phinisi labuan bajo , pastikan kecepatan kapal sanggup digunakan untuk menempuh beberapa tempat sekaligus dalam sehari. Sebab, seperti Pinisi Helena, kapal ini sepertinya tidak dirancang untuk bergerak cepat.

Dengan bodi yang besar, mesin enam silinder kapal ini hanya bisa berlayar santai. Perjalanan ke Padar yang biasa memakan waktu tiga jam, tak mampu ditempuh kapal ini secepat itu. Padahal penghuni Pinisi Levilia yang lebih kecil sudah selesai trekking di Padar.

Namun, kami masih terombang-ambing di lautan. Alhasil, dari tiga pulau yang rencananya kami kunjungi hari itu, tidak ada satupun yang berhasil dicapai Helena.

 

 

Nakhoda beralasan, arus sudah terlalu deras sehingga mesin kapal tak mampu melawan. Alih-alih maju, kapal bahkan sempat mundur karena tak sanggup melawan arus.

Setelah 7,5 jam berlayar, kapal pun akhirnya hanya mampu merapat ke pulau Rinca. Ini adalah pulau terdekat dari Labuan Bajo dan tidak masuk dalam daftar rencana kunjungan kami kali ini. Padahal sesuai prediksi, Levilia pun hanya perlu 3 jam untuk perjalanan Bajo-Pulau Padar.

Lambatnya kapal ini sudah terasa sejak pertama angkat jangkar dari dermaga Labuan Bajo. Pinisi Levilia yang lebih kecil dan ramping sudah melaju hingga tak terlihat pandangan. Begitupun saat merapat ke Rinca, kapal tetangga pun “ngebut” menyalip kapal kami saat bersandar di dermaga.

Dari penelusuran di Booking.com, kebanyakan memang menyewa kapal ini untuk menginap di atas laut rata-rata selama 4 hari 3 malam.

Sementara saat itu kami memesan kapal ini untuk perjalanan selama 1 hari saja. Jelas kapal ini tak cocok untuk perjalanan “nggak” santai